BREAKING NEWS
Search

Rayakan Natal dengan Kesedarhanaan

(Foto Ilustrasi, Dok, KM)
Oleh: Yan Pit Kotouki

Opini, (KM). Natal adalah hari kelahiran Tuhan Yesus. Hari dimana umat nasrani di dunia merayakannya. Hari ini jatuh pada tanggal 25 Desember, sesuai kesepakatan Gereja-gereja sedunia.

Kelahiran Tuhan Yesus “heboh”: Para malaikat bernyanyi, juga para gembala di padang gurun kaget mendengar berita kelahiran Sang Juru selamat. Orang Majus dari Timurpun berdatangan melihat kelahiran “ Sang Bayi” yang baru dilahirkan itu. Sungguh meriahnya kelahiran Tuhan Yesus.

Dalam merayakannyapun umat Nasrani sangat antusias dan gembira. Mereka mengespresikan kembiraan mereka dengan melakukan berbagai cara: Dengan membuat pondok natal, membeli baju baru, memainkan petasan dan juga dengan hal-hal lain yang berkaitan dengan Natal. Di bulan Desember keramaian itu terjadi.

Dalam keramaian dan sukacita itu ada sebuah kesenjangan Natal yang menurut penulis musti direfleksikan. Musti ada sebuah pengertian dan pemaknaan yang membuat arti sebenarnya natal itu. Mudah-mudahan melalui tulisan ini ada sedikit pencerahan.

Mengapa penulis bilang Natal itu “sederhana”? Bukan berarti kelahiran Tuhan Yesus itu sederhana dan biasa-biasa saja, maka itulah kata sederhana diberi tanda kutip. Merayakaanya itulah yang dimaksud sederhna (tidak selalu mewah).

Antusias dan sukacita umat yang luar biasa tadi, seakan telah menjadi sebuah upacara rutinitas tahunan. Mengekspresikan sukacita dan kegembiraan atas hari natal telah disalah mengerti, dan telah lari dari makna yang sesungguhnya. Dengan mengekspresikan kegembiraan yang menurut penulis sangat “berlebihan” ini, masyarakat (umat Nasrani) telah diubahkan paradigma pada sebuah kesenangan yang mungkin tanpa makna apa-apa.

Seperti yang telah dituliskan tadi bahwa, semacam natal ini adalah sebuah upacara rutinitas tahunan. Kesalahpahaman Natal itu telah mengakibatkan masalah-masalah sosial dan individu seperti yang dibawah ini:

Imbasnya pada Ekonomi

Kesalahpahaman ini berimbas pada kehidupan sosial. Seperti ada sebuah perbedaan antara masyarakat: yang miskin akan besusah payah agar kebutuhan natal segera terpenuhi. Bahkan dengan menggunakan cara apapun dia akan lakukan, apalagi jika masyarakat yang hanya mengandalkan unag jualan (mama Papua). Yang ada dalam benak mereka adalah: “Bagaimana mepersiapkan kebutuhan natal seperti; kue, pakaina baru, harga tiket untuk natal bersam keluarga yang lain, dan yang lainnya”.

Bahkan sampai jika tidak terpenuhi kebutuhan tersebut, maka lari pada hutang piutang, Yang pada akhirnya akan merusak keharmonisan keluarga. Sedangkan masyarakat menengah atas (orang kaya) akan berpikir untuk mepersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan, yang kadang-kadang melewati batas. Juga sering terjadi perbandingan kekayaan, yang sebenarnya Natal adalah hari Damai, kini sebaliknya menjadi hari saling dendaman. Imbas dari ketidakpahaman hari Natal yang baik ini sangat dirasakan pada bagian ekonomi ini.

Pondok Natal

Apa relevansinya dengan Natal? Pondok natal adalah ibarat kandang Domba dimana tempat Tuhan Yesus lahir atau turun ke dunia. Pondok natal sangat bermakna dan setiap tahun dimana-mana pondok Natal dibuat.

Namun sayangnya, paradigma yang sebenarnya, telah diubah dengan semacam “sayembara” oleh pemerintah yang tanpa pemberian penjelasan yang hanya menawarkan uang dan lain sebagainya, yang akibatnya pondok natal dibuat semata-mata hanya untuk perlombaan semata. Juga ada pondok yang dibuat hanya untuk tempat bersenang-senang. Kalau semacam ini, maka pondok Natal yang sesungguhnya telah lari.

Bunyi-bunyian

Petasan. Ia, peatasan yang kebanyakan digunakan untuk bunyi-bunyian, bagi saya petasan sangat tidak relevan dalam Natal. Sebenarnya petasan dan alat bunyi-bunyian lainnya digunakan pada saat pergantian Tahun atau acara-acara serimonial lainnya.

Kalau Petasan dan bunyi-bunyian dimainkan pada saat hari natal itu tidak nyambung. Petasan juga kadang membuat masyarakat resah, karena mengganggu, lebih khususnya yang sedang mengalami kelemahan tubuh (sakit).

Para penjual merasa untung dengan apa yang mereka lakukan. Petasan sangat laris, dan sering dimainkan oleh anak-anak kecil. Sebagai anak kecil mereka akan katakana “kita main karena Desember”. Ini telah merubah pola pikir anak-anak kecil.

Mari Rayakan Natal dengan Benar

“Hari ini telah lahir bagimu juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud”. Tertulis dalam Injil Lukas 2:11. Dalam Alkitab tidak termuat tanggal 25 Desember adalah hari Kelahiran Tuhan Yesus. Namun yang tertulis adalah “Hari ini”.

Bukan berarti 25 Desember tidak berguna, namun tanggal tersebut disepakati oleh gereja-gereja sedunia sebagai hari Kelahiran Tuhan Yesus. Untuk memperingati dan mengenang hari kelahiran Tuhan Yesus ke dalam dunia. Yang terpenting adalah makna sesungguhnya.

Damai Natal juga sering disebut bulan atau hari damai. Kenapa damai? Karena dalam kepercayaan umat Nasrani Tuhan Allah telah berdamai dengan kejahatan manusia melalui Kelahiran Tuhan Yesus ke bumi. Sehingga Tuhan YESUS datang ke dunia hanya mau melakukan.

*) Penulis adalah anak muda Papua

Editor: Frans Pigai


TAG

nanomag

Media Online Kabar Mapega adalah salah situs media online yang mengkaji berita-berita seputar tanah Papua dan Papua barat secara beragam dan berimbang.


0 thoughts on “Rayakan Natal dengan Kesedarhanaan